Mencoba Menjadi Blog di SERP Terdepan

Guru Pembawa Keajaiban ‘Saya Istimewa Karena…’

Guru Pembawa Keajaiban ‘Saya Istimewa Karena…’

Guru Pembawa Keajaiban ‘Saya Istimewa Karena…’
Guru Pembawa Keajaiban ‘Saya Istimewa Karena…’
Guru Pembawa Keajaiban ‘Saya Istimewa Karena…’ - Jika Anda masuk ke ruang kelas tempat Yolly Bennet mengajar, Anda akan bertemu dengan anak-anak yang berasal dari budaya dan latar belakang yang berbeda-beda. Anak-anak yang diajarnya berasal dari Filipina, Indian, Maori, Pulau Pasifik, dan Pakeha. Sangat beragam dan berwarna, tapi bukankah sulit untuk mengajar kelas dengan anak didik yang berasal dari latar belakang dan budaya yang berbeda? Seperti yang dilansir dari nzherald.co.nz, Yolly Bennet punya trik dan caranya sendiri.

Cap Kaki Tiga, Setia, Manfaat Tantangan terberat mengajar di ruang kelas yang diisi oleh anak-anak dari latar belakang dan budaya yang berbeda-beda adalah untuk bisa saling menghormati satu sama lain. “Atmosfernya harus santai dan menyenangkan, tetapi selalu sibuk. Batasan-batasannya adalah hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Kita harus berkomunikasi dengan baik dan saling menghormati satu sama lain,” jelasnya. Yolly Bennet pun punya caranya sendiri yang unik, kreatif, sekaligus menyenangkan agar bisa saling menghormati satu sama lain.

Yolly Bennet mengoper sebuah bola kuning dan meminta setiap anak melengkapi kalimat “Saya istimewa karena…” Dan, setiap anak memiliki jawaban-jawaban yang menakjubkan. “Saya istimewa karena saya memiliki kehidupan yang luar biasa,” kata seorang murid. Murid lainnya berkata, “Saya istimewa karena saya adalah saya.” Seorang anak laki-laki berkata dirinya spesial karena dia jelek. “Mengapa jelek? Semua gadis mengejar-ngejarmu minggu lalu,” jawab Mrs. Bennet dengan sebuah senyuman. Jawaban yang diberikan oleh anak-anak sangat bervariasi, ada yang lucu, manis, dan juga mengejutkan.

Inspirasi Cap Kaki Tiga, Setia, Manfaat Yolly Bennet adalah orang Filipina. Ia menuturkan bahwa di Filipina semua murid seperti tentara yang berbaris menuju perpustakaan. Pada awal-awal ia mengajar di Gate Pa School, South Auckland, ia merasa sedikit kaget dengan perbedaan budaya yang ada. Di sekolah tempat ia mengajar sekarang, semua anak bebas berbicara dan hal tersebut sempat membuatnya merasa dirinya tidak dihargai sebagai guru. Namun, sekarang ia sudah bisa beradaptasi dengan baik dan bahkan membuat suasana kelas jauh lebih menyenangkan.

Sambut Brazil 2014 Menjadi guru itu memang tidak mudah, tetapi jika semuanya dilakukan dengan hati, segala sesuatunya akan menjadi mudah. “Hari di mana aku tak bisa lagi menikmati hidupku adalah hari ketika aku berhenti bekerja (menjadi guru). Anak-anak bisa tahu mana yang nyata dan bukan,” ungkap Mrs. Bennet


share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Ruth gultom, Published at 02.11 and have